Kenaikan suhu global 1 derajat celcius, berdampak pada Indonesia

http://www.pelangi.or.id/press.php?persid=82, For Immediate Release 10 April, 2007

Jakarta, 9 April 2007 – Turunnya produksi pangan serta meningkatnya banjir dan badai karena perubahan iklim akan semakin mengancam Indonesia, menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang dikeluarkan pada 6 April 2007. Laporan yang berjudul ‘Climate Change Impacts, Adaptation and
Vulnerability’ menunjukkan dampak-dampak perubahan iklim yang sudah dan yang mungkin terjadi di masa depan.

Laporan ini dibuat menggunakan data yang jauh lebih banyak dibandingkan laporan IPCC serupa pada tahun 2001. Berdasarkan data yang lebih lengkap, laporan ini berkesimpulan bahwa ada “high confidence” (yang berarti 80% kemungkinan) untuk menyatakan perubahan suhu yang terjadi akhir-akhir ini telah berdampak kepada banyak sistem fisik dan biologis alam.

Meski jumlah data bertambah, masih ada ketimpangan data secara geografis dimana data dari negara-negara berkembang masih minim. Untuk wilayah Indonesia, laporan IPCC mengindikasikan hanya satu lokasi perubahan fisik alam, yaitu di Papua.

Dalam laporan ini dapat dilihat dampak pemanasan global yang akan terjadi per 1 derajat Celcius kenaikan rata-rata suhu dunia dalam rentang kenaikan 1-5 derajat Celcius. Berdasarkan data IPCC, antara tahun 1970 hingga 2004, di Indonesia telah terjadi kenaikan suhu rata-rata tahunan antara 0,2-1 derajat Celcius yang dapat mengakibatkan:

  • penurunan produksi pangan sehingga bisa meningkatkan risiko bencana kelaparan
  • peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai
  • peningkatan kasus gizi buruk dan diare perubahan pola distribusi hewan dan serangga sebagai vektor penyakit.

Menurut IPCC, yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah masyarakat miskin. Ini disebabkan kemampuan beradaptasi mereka yang rendah karena minimnya sumberdaya yang mereka miliki, selain karena kehidupan mereka cenderung sangat bergantung pada sumberdaya yang rentan terhadap kondisi iklim.

Usaha mengurangi gas rumah kaca sebaik apapun tidak akan mampu menghindarkan kita sepenuhnya dari dampak perubahan iklim, sehingga diperlukan usaha-usaha adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Beberapa tindakan adaptasi sudah mulai dilakukan, namun masih sangat terbatas. Contoh-contoh adaptasi yang ditemui adalah pembuatan infrastuktur untuk melindungi pantai di
Maldives dan Belanda, serta dibuatnya kebijakan dan strategi manajemen air di Australia.

Salah satu cara yang diusulkan untuk meningkatkan kapasitas beradaptasi adalah dengan memperhitungkan dampak perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan. Sebagai contoh:

  • memasukkan adaptasi perubahan iklim dalam perencanaan pengunaan lahan serta pembangunan infrastruktur
  • memasukkan cara-cara untuk menekan kerentanan terhadap perubahan iklim ke dalam strategi penanggulangan bencana

Laporan IPCC memberikan bukti bahwa perubahan iklim sudah mulai membawa dampak negatif dan bisa menjadi semakin parah di masa depan. Menurut Kuki Soejachmoen dari Yayasan Pelangi Indonesia, sebagai negara yang sangat rentan Indonesia harus segera memperhitungkan dan memasukkan aspek perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional. Agar ini bisa dilakukan,
diperlukan data komprehensif yang terkait dengan perubahan iklim.

Kuki mengajak lembaga-lembaga yang bidang kerjanya terkait dengan dampak perubahan iklim untuk mengumpulkan data mereka, agar dapat digunakan sebagai dasar membuat strategi pembangunan nasional yang bisa memperkecil dampak negatif perubahan iklim di Indonesia. “Dengan data yang lengkap, Indonesia bisa memetakan daerah mana yang rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti apa, untuk kemudian menyusun strategi adaptasi perubahan iklim yang sesuai dengan kondisi tersebut,” ujar Kuki.
Curah hujan, kenaikan permukaan air laut, kejadian banjir dan badai, kekeringan, gagal panen, serta kasus penyakit, merupakan contoh sebagian kecil data yang diperlukan untuk melakukan adaptasi perubahan iklim.

Laporan ‘Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability’ adalah ringkasan dari sebuah full-report dan ditujukan bagi para pengambil kebijakan. Laporan ini adalah bagian kedua dari ‘The Fourth Assessment’ yang akan dikeluarkan IPCC tahun ini. Pada Februari 2007, IPCC sudah mengeluarkan bagian pertama yang berjudul ‘The Physical Science Basis’ yang memberikan bukti-bukti bahwa pemanasan global diakibatkan aktivitas manusia. Laporan ketiga mengenai mitigasi perubahan iklim akan dikeluarkan pada Mei 2007, dan sebuah Synthesis Report pada November 2007 akan melengkapi ‘The Fourth Assessment, Climate Change 2007’.

——————————————————————–

Catatan untuk editor:

Intergovernmental Panel on Climate Change: lembaga yang dibentuk oleh World Meteorological Oganization dan United Nations Environment Programme pada tahun 1988. Bertugas melakukan kajian ilmiah, teknis dan sosio-ekonomi yang relevan untuk memahami
perubahan iklim, potensi dampaknya serta pilihan untuk kegiatan mitigasi dan adaptasi. 2500 ilmuwan tergabung dalam IPCC dan menjadi narasumber paling berpengaruh dalam isu perubahan iklim.

Mitigasi: usaha-usaha mengurangi dan membatasi emisi gas rumah kaca.

Beberapa dampak perubahan iklim dalam laporan IPCC yang terkait dengan Indonesia:
Sumber dan manajemen air tawar:

  • Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan ketersediaan air di daerah subpolar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak 10-40%.
  • Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.

Ekosistem:

  • Kemungkinan punahnya 20-30% spesies tanaman dan hewan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1, 5-2,5oC.
  • Meningkatnya tingkat keasaman laut karena bertambahnya Karbondioksida di atmosfer diperkirakan akan membawa dampak negatif pada organisme-organisme laut seperti terumbu karang serta spesies-spesies yang hidupnya bergantung pada organisme tersebut.

Pangan dan hasil hutan:

  • Diperkirakan produktivitas pertanian di daerah tropis akan mengalami penurunan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global antara 1-2derajat Celcius sehingga meningkatkan risiko bencana kelaparan.
  • Meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir diperkirakan akan memberikan dampak negatif pada produksi lokal, terutama pada sektor penyediaan pangan di daerah subtropis dan tropis.
  • Adaptasi bisa dilakukan dengan menciptakan bibit unggul atau mengubah waktu tanam
  • Peningkatan suhu regional juga akan memberikan dampak negatif kepada penyebaran dan reproduksi ikan.

Pesisir dan dataran rendah:

  • Daerah pantai akan semakin rentan terhadap erosi pantai karena perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut. Kerusakan pesisir akan diperparah oleh tekanan dari manusia di daerah pesisir.
  • Diperkirakan pada tahun 2080, jutaan orang akan terkena banjir setiap tahun karena naiknya permukaan air laut. Risiko terbesar adalah dataran rendah yang padat penduduk dengan kapasitas beradaptasi yang rendah. Penduduk yang paling banyak terancam berada di delta-delta besar di Asia dan Afrika, namun yang paling rentan adalah penduduk di pulau-pulau kecil.
  • Adaptasi untuk daerah pesisir lebih sulit dilakukan di negara berkembang karena terbatasnya kapasitas beradaptasi mereka.

Industri, permukiman dan masyarakat:

  • Industri, permukiman, dan masyarakat yang paling rentan umumnya berada di daerah pesisir dan bantaran sungai, serta mereka yang ekonominya terkait erat dengan sumberdaya yang sensitif terhadap iklim, serta mereka yang tinggal di daerah-daerah
    yang sering dilanda bencana cuaca ekstrem, terutama dimana urbanisasi berlangsung dengan cepat.
  • Komunitas miskin sangat rentan karena kapasitas beradaptasi yang terbatas, serta kehidupan mereka sangat tergantung kepada sumberdaya yang mudah terpengaruh oleh iklim seperti persediaan air dan makanan.

Kesehatan:

  • Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.

 

No Comments Yet

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar